Welcome to our World! Where we serve you cookies to ensure you get the best viewing experience on our site.

Did you know that you can remove censorship board-wide, use our advanced search functions, be notified when new content is posted, join our memberships, set episodes to show in any order you want & more if you are logged into your account?

Register or sign in here: ucp.php?mode=register

01x21 - Episode 21

Episode transcripts for the TV show, "Thao Kradangnga". Aired: November 9, 2024.*
Watch/Buy Amazon


A widow, sweet like the scent of burnt ylang-ylang, is surrounded with men enthralled with her: her ex-husband, a high-class gentleman, a bad boy model, a good subordinate, and a former cop friend.

01x21 - Episode 21

Post by bunniefuu »

Jin. Dia mengaku

bahwa dia membunuh Susie.

Dia pasti sadar
kau sudah tahu kebenarannya.

Aku minta maaf

sudah menyeret semua orang
ke dalam kekacauan ini.

Lepaskan.

Apa ini berarti Jin membunuh Thee?

‎SEBELUMNYA

Bagaimana gadis kecil yang bersamanya?
Apa dia aman?

Tim penyelamat hanya membawa satu pasien.

Tam.

Da, dia tak ada di atas.
Aku tak tahu di mana dia.

Tam!

Jin.

Hati-hati.

Aku ingat tadi kami mengalami kecelakaan.

Di mana ayahku?

Ayahmu di rumah sakit.

Dia baik-baik saja. Sedang pemulihan.

Jadi, ibumu memintaku menjagamu
untuk sementara ini.

Tapi ibumu sedang menuju kemari.

Kita bertiga

akan ke pantai bersama.

Ide bagus, bukan?

Apa ini kucingmu?

Ya.

Ini untukmu.

Benarkah?

Kau sungguh memberikannya padaku?

Da, bagaimana Araya?

Dia sudah melewati masa kritis,

tapi kakinya paling parah.

Dia mungkin tak bisa berjalan lagi.

Rin sudah tahu?

Kurasa dia belum sanggup menerima ini.
Masalah Tam sudah berat untuknya.

Aku kasihan padanya.
Kenapa dia harus melalui semua ini?

Ada kabar soal Tam?

Jin sangat cerdik.
Dia tak pernah meninggalkan jejak.

Tapi jangan khawatir.

Kupastikan dia mendapat keadilan.

Sampaikan salam pada ibumu, Tam.

Ibu, aku menunggu.

Tam!

Temui aku di alamat yang kukirim.

Datang sendiri.
Jangan beri tahu siapa pun.

Terutama Charan.

Kau tahu aku sanggup berbuat apa, 'kan?

Jemput Tam. Kami menunggumu.

Tam, tunggu Ibu.

Kenapa di sini?

Di mana Tam?

Aku bertanya di mana Tam!

Apa dia di sini?

- Di mana Tam?
- Berikan ponselmu.

Atau tak mau melihatnya lagi?

Kau mau apa?

Rin.

Apa?

Rin, kau di kamar mandi?

Ada apa?

- Di mana Rin?
- Kenapa? Di sini.

Tidak ada. Kamar mandi juga tak ada.

Sudah kau cari di mana-mana?

Ponselnya di luar jangkauan.

Ran, Rin hilang.

Di mana Tam?

Kutanya di mana Tam!

Jangan berteriak, Bu Rin,

nanti dia bangun.

Itu tak baik, Bu Rin.

Ke sini.

Apa Rin pergi mencari Jin?

Jika dia

hilang kendali dan Tam disakiti,
kita harus bagaimana?

Tam, Rin…

- Bibi.
- Bibi tak kuat.

- Bibi.
- Bibi.

- Sebentar.
- Duduklah.

Bibi, tenang.

Jika dia mau membunuh mereka,
pasti sudah dilakukannya.

Dia menculik Chertam
karena mau memaksa Rin bersamanya.

Kita masih punya waktu.

Bisakah sinyal ponsel Rin dilacak?

Dia mungkin sudah memutus sinyalnya.

Mustahil dia membiarkan kita
mencarinya dengan mudah.

Kita tak bisa menyelamatkan Rin dan Tam?

Bibi…

GRIYA SAPHAN DAO

Sepertinya aku tahu di mana dia.

Tam!

Tam, Ibu di sini.

Ibu datang.

Aku sudah lama menunggu.
Jin bilang dia mau mengajak jalan-jalan.

Kau tak apa-apa? Kau terluka?

Kau tak apa-apa? Kau tak disakiti, 'kan?

Ibu baik-baik saja?

Ibu hanya senang!

Kita akan jalan-jalan bertiga.

Kau mau apa?

Aku mau mengajak…

Ayah,

Ibu,

dan anak, untuk jalan-jalan.

Tapi kita berfoto dulu.

Foto keluarga.

Aku sudah menyiapkan semuanya.

Kita akan taruh foto keluarga ini

di rumah baru kita.

Ide bagus, 'kan?

Bukankah itu bagus, Tam?

Jangan sentuh dia. Jauhkan tanganmu!

Kumohon. Jangan sakiti Tam.

Lepaskan dia. Dia tak tahu apa-apa.

Lepaskan dia, kumohon.

Jangan sentuh. Kau tak dengar?

Ibu, aku mau bertemu Ayah.

Ayah…

Ayah tak ada. Dengan Ibu dulu, Sayang.

Dengan Ibu dulu.

Kita akan pergi
ke tempat yang sangat terasing.

Kita akan hidup bahagia sebagai keluarga,
ayah, ibu, dan anak.

Kita naik kapal besok.

Kenapa kau berbuat ini?

- Berbuat apa?
- Aku bingung kenapa kau berbuat ini.

Membunuh…

mereka?

Susie dan Mek bersekongkol menipumu.

Mereka pantas mati,

bukan begitu?

Kau membunuh Pak Mek?

Jadi, dia bukan overdosis?

Teganya kau!

Bukankah itu perbuatan benar?
Mereka pantas mati.

Bukan hanya Susie,

bukan hanya Mek,
siapa pun yang mau menyakitimu.

Kau pasti menyukai Bu Sirin.
Jadi, kau tak mau dia bersama Krit?

- Pak.
- Thee.

Aku tak terima, Krit.
Jangan meninggalkanku begini!

Thee.

Tapi jangan khawatir,
aku tak akan memberi tahu Bu Sirin

kau dalang semuanya ini.

Anggap saja kesepakatan bisnis.
Sama-sama untung.

Lalu, apa kau tahu

membunuh siapa yang paling memuaskanku?

Chanya.

Chanya?

Aku masih ingat ekspresi terakhirnya.

Tolong!

Lepaskan aku!

Tolong!

Perasaanku saat menghabisi Chanya

sama persis

seperti saat aku membunuh ayahku.

Rasanya puas sekali
melihat orang-orang jahat

mati perlahan.

Bukankah aku berbuat benar, Ibu?

Bukankah aku berbuat benar, Ibu?
Apa aku berbuat benar?

Jin…

- Aku benci dia selalu menyakiti Ibu.
- Berikan uangnya!

- Aku benci dia selalu menyakiti Ibu.
- Aku tak punya.

Aku benci dia…

Aku benci dia selalu menyakiti Ibu.
Maaf aku tak bisa menolong Ibu.

Maafkan aku, Ibu.

Lepaskan aku.

Ibu akan meninggalkanku lagi?

- Jangan tinggalkan aku, Ibu.
- Lepaskan.

- Maaf, Ibu.
- Lepaskan.

Kenapa Ibu meninggalkanku lagi?
Kenapa Ibu tak menemaniku?

- Kau kenapa?
- Ibu tahu Ayah jahat.

Kenapa Ibu membelanya?

- Lepaskan.
- Ibu!

Dengarkan. Kenapa Ibu meninggalkanku?

Ibu!

Kenapa Ibu meninggalkanku?

Aku bukan ibumu. Aku Sirin!

Aku bukan ibumu.
Kau dengar itu? Aku bukan ibumu!

- Ibu.
- Tam.

Foto keluarga.

Benar. Ayo berfoto bersama.

Ayo berfoto yang bagus
untuk dipajang di rumah kita,

setuju?

Tam, ke sini.

Ayo senyum.

Jin menculik Tam! Bajingan itu!

- Sakit!
- Tenang, Araya.

- Tidak.
- Kau mau apa?

- Tidak!
- Araya, kau mau apa?

- Jangan.
- Tidak!

- Tidak, Bu. Aku mau selamatkan anakku.
- Araya.

Kau tak bisa. Tunggu.

Araya, jangan!

Astaga! Araya!

- Tenang.
- Kakiku…

Kenapa kakiku?

Kenapa aku tak bisa merasakannya?

Fokus pada pemulihanmu dulu.

Tidak, aku harus menyelamatkan Tam.

Ibu, aku harus menyelamatkan
Rin dan putriku!

- Tunggu, Araya.
- Aku mau pergi.

Araya, Ibu mohon, jangan.

Dokter! Perawat!

- Sakit!
- Perawat!

Tolong!

Pak, berbahaya!

- Pak.
- Bangun.

- Istirahat dulu.
- Tidak. Lepaskan aku.

Kau tak apa-apa?

Jin,

lepaskan Tam, kumohon.

Tam sakit.
Dia harus dibawa ke rumah sakit.

Kau dengar aku?

Lepaskan Tam.

Ayo. Ibu bantu.

Sakit?

Sedang apa kau?

Kubilang dia sakit.
Mau kubawa ke rumah sakit.

Kumohon, lepaskan dia.

Tam.

Kenapa saat itu kau tak kubunuh, Ran?

Ran! Tolong!

Diam!

Diam!

Kau tak bisa lari dari ini.

Kalau harus mati,

kita mati bertiga.

Benar, 'kan?

Hei.

Lepaskan Tam.

Aku akan pergi bersamamu.

Bawa aku.

Lepaskan Tam.

Hei, Tam?

- Tam!
- Tam!

Panggil ambulans sekarang!

- Panggil ambulans.
- Kau tak apa-apa?

- Ya, Pak.
- Ini Bibi Da.

Kau sudah aman.

- Ayo.
- Ayo.

Ayo.

- Jaga dia, Da.
- Hati-hati, Ran.

- Pak.
- Ya?

Mereka lewat sini.

Sial! Ikuti dia. Cepat!

Hei, tunggu.

Hei!

- Stop!
- Ran!

- Ran!
- Menyerahlah. Kau tak bisa lari!

Ran, tolong!

Sial!

Jin.

Serahkan dirimu.

Kau juga terluka.
Kau harus ke rumah sakit.

Kau masih mencintaiku?

Aku tak bisa mencintaimu.

Kenapa kau tak bisa mencintaiku?

Karena kau pembunuh.

Kau membunuh orang.
Kau membunuh orang-orang di sekitarku.

Aku melindungimu!

Mereka mau menyakitimu.

Mereka teman, stafku.
Kenapa mereka harus pantas mati?

Bu Sirin!

Semua upayaku itu,

- kulakukan demi cinta!
- Itu bukan cinta!

Kau tak mencintaiku. Itu bukan cinta.
Kau mencintai dirimu sendiri.

Dengarkan aku!

Kau melihatku sebagai pengganti ibumu.

Kau membalas dendam untuknya melalui aku!

Aku bukan ibumu.

Jangan begini.

Ini bukan cinta.

Kau hanya berpikir
ini mengurangi rasa bersalahmu.

Kau tak mencintaiku.
Kau hanya mau memilikiku.

Itu bukan cinta!

‎Itu tak benar.

Itu tak benar.

- Itu tak benar.
- Itu benar!

Kau egois. Pengecut.

Kau tak berhak menghakimi orang lain.

Mereka tak berbuat salah.

Itu tak benar.

- Kau sakit.
- Itu tak benar!

Semua orang membenciku!

Aku dijebak.

Aku dijebak, Bu Rin.

Aku dijebak.

Bagaimana mungkin aku menyakitimu?
Kita keluarga.

Keluarga selalu bersama.

Keluarga tak saling meninggalkan.

Kau mau apa?

Aku akan mati,

tapi kita tak akan saling meninggalkan.

Maaf.

Apa kau seniman lukisan ini?

Karya ini memancarkan kehangatan.

Bukan.

Kau suka?

Ya.

Lukisan ini penuh kehangatan

dan cinta,

suasana keluarga.

Cantik sekali.

- Rin, kau di sini.
- Nid.

Pak Jin,

ini Bu Sirin, pemilik Hotel Sirin Bangkok

dan dia temanku.

- Halo.
- Halo.

Sudah waktunya. Ayo.

- Ayo.
- Baik.

Sampai jumpa.

Terima kasih, Somdet,
sudah membuatkan sesuai bayanganku.

Baik, Bu.

Paron, suruh tim pemasaran
mengambil gambar

setiap sudut yang direnovasi,
lalu minta langsung unggah.

Siap!

Ayo, Pak Somdet. Kita beristirahat.

- Ada minuman kuning.
- Hei.

Sedikit saja.

- Rin.
- Ran.

Kau mau menemui Da?

Ya, aku mau mengundangnya
untuk ulang tahun yang terlambat.

Akhirnya paham perasaanmu?

Mau secantik apa lagi?

Astaga!

Kenapa kau selalu datang
dan mengagetkanku?

Lihat, cemong semua!

Coba kulihat. Cemong, tapi cantik.

Gombal!

Astaga!

Kemarilah. Biar kubersihkan.

Sudah cantik.

Mulai sekarang,
aku akan mengurus semuanya untukmu.

Rin bilang begitu paham perasaan kita,

kita harus menghargainya.

- Kau tadi bertemu Rin?
- Ya.

Sejak tragedi itu,

Rin berusaha keras untuk kembali hidup.

Aku yakin wanita kuat sepertinya
akan melalui semua ini.

Apa ini saat yang pas membahas Rin?

- Ayo. Berangkat.
- Ayo.

Benar juga. Ayo.

Ayah datang!

- Apa kabar? Sudah lama menunggu?
- Tidak sama sekali.

Ini hadiah untukmu, Tam sayang.

Apa ini?

Bukan kejutan jika Ayah bilang.

Selamat ulang tahun

Ya!

Selamat ulang tahun, Sayang.

- Anak manis Ibu.
- Semoga selalu bahagia, Sayang.

- Kau sudah besar.
- Ya!

- Enak.
- Kue favoritmu, 'kan?

Ini dia!

Ini kado untuk Tam,

anak kesayangan kami.

Terima kasih!

Berpelukan.

- Apa isinya?
- Biar kubuka.

- Semangat sekali.
- Bukalah.

- Hati-hati, Sayang.
- Baik.

Terima kasih.

Rin, aku memutuskan
membeli hotel kecil di Phuket.

Dengan uang dan waktu yang tersisa,

aku mau berusaha
dengan kekuatanku sendiri.

Aku ikut senang.

Selain itu,

aku senang untuk lembaran barumu.

Aku juga minta maaf
atas semuanya yang terjadi.

Tidak perlu minta maaf. Sama sekali.

Tidak ada yang sempurna.

Peran terbaik kita saat ini

adalah menjadi orang tua untuknya.

Kita akan membesarkannya

agar bahagia dan tak perlu mengalami
luka yang kita alami.

Semoga kau bahagia, Rin.

Kau juga, Araya.

Jaga dirimu.

Terima kasih.

Aku dulu meyakini

ketenaran, kesuksesan,

menjadi nomor satu, mendapat pengakuan,

dan dicintai banyak orang
adalah yang kubutuhkan.

Kupikir itu akan memadamkan
kesedihan di hatiku,

tapi itu tak selalu benar.

Kita semua butuh waktu
untuk melupakan rasa sakit.

Jangan gunakan masa kini
untuk menyembuhkan luka masa lalu.

Jalani saja saat ini
dan carilah kebahagiaan sejati.